RSS

Bersungguh-sungguh

18 Sep

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad dalam membela agama Kami, maka pasti akan Kami
tunjukkan mereka itu akan jalan Kami dan sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang berbuat
kebagusan.” (al-Ankabut: 69)
Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datanglah keyakinan – kematian – itu padamu.” (al-Hijr:99)
Lagi Allah Ta’ala berfirman:
“Dan ingatlah akan nama Tuhanmu serta beribadatlah kepada-Nya dengan sepenuh hati,”
yakni hentikanlah segala pemikiran, untuk semata-mata menghadap kepadaNya.” (al-Muzzammil:8 )
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat timbangan debu, iapun pasti akan
mengetahuinya.” (az-Zalzalah: 7)
Juga Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apa saja – perbuatan baik – yang engkau sekalian berikan untuk dirimu sendiri, nanti
pasti akan engkau sekalian dapati di sisi Allah, keadaannya adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya
dan mohonlah pengampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi
Penyayang.” (al-Muzzammil: 20)
Lagi firman Allah Ta’ala:
“Dan apa saja kebaikan yang engkau sekalian kerjakan, maka sesungguhnya Allah itu Maha
Mengetahui.” (al-Baqarah: 215)
Ayat-ayat dalam bab ini banyak sekali dan dapat dimaklumi. Adapun Hadis-hadisnya
ialah:
95. Pertama: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis qudsi : “Barangsiapa memusuhi
kekasihKu, maka Aku memberitahu-kan padanya bahwa ia akan Kuperangi – Kumusuhi.
Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat
Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Dan
tidaklah seseorang hambaKu itu mendekatkan padaKu dan melakukan hal-hal yang sunnah
sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Akulah yang
sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, Akulah matanya yang ia gunakan
untuk melihat, Akulah tangannya yang ia gunakan untuk mengambil dan Akulah kakinya
yang ia gunakan untuk berjalan. Andaikata ia meminta sesuatu padaKu, pastilah Kuberi dan
andaikata memohonkan perlindungan padaKu, pastilah Kulindungi.” (Riwayat Bukhari)
Makna lafaz Aadzantuhu, artinya: “Aku (Tuhan) memberitahu-kan kepadanya (yakni
orang yang mengganggu kekasihKu itu) bahwa Aku memerangi atau memusuhinya, sedang
lafaz Ista’aadzanii, artinya “Ia memohonkan perlindungan padaKu. Ada yang meriwayatkan dengan ba’, lalu berbunyi Ista’aadza bii dan ada yang meriwayatkan dengan nun, lalu
berbunyi Ista’aadzanii.
Keterangan:
Yang perlu kita resapkan dalam Hadis ini ialah:
(a) Di atas itu, Hadis Qudsi namanya.
(b) Kekasih Allah ialah orang yang amat taqwa kepadaNya dan orang yang
memusuhi kekasih Allah ini pasti akan rusak binasa sebab dimusuhi oleh Allah.
(c) Jadi bila hendak mendekat pada Allah, lebih dulu penuhilah kewajiban-kewajiban
yang telah dipikulkan oleh Allah pada kita itu,
(d) Maka kalau orang itu sudah benar-benar dekat pada Allah semua
pendengarannya, penglihatannya,pengambilannya dan perjalanannya selalu diberi petunjuk
oleh Allah sehingga cahaya Tuhan selalu ada di kanan kirinya.
96. Kedua: Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w. dalam sesuatu yang diriwayatkan dari
Tuhannya ‘Azzawajalla, firmanNya – ini juga Hadis Qudsi :
“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat
padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya
sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya
dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Hadis yang tercantum di atas itu adalah sebagai perumpamaan belaka, baik bagi Allah
atau bagi hambaNya. Jadi maksudnya ialah barangsiapa yang mengerjakan ketaatan kepada
Allah sekalipun sedikit, maka Allah akan menerima serta memperlipat-gandakan pahalanya,
juga pelakunya itu diberi kemuliaan olehNya selama di dunia sampai di akhirat. Makin besar
dan banyak ketaalannya, makin pula besar dan bertambah-tambah pahalanya. Manakala cara
melakukan ketaatan itu dengan perlahan-lahan, Allah bukannya memperlahan atau
memperlambatkan pahalanya, tetapi bahkan dengan segera dinilai pahalanya itu dengan
penilaian yang luarbiasa tingginya.
Demikianlah tujuan dan makna yang tersirat dalam isi Hadis tersebut. Wallahu A’lam
bish-shawaab.
97. Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada dua macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebagian besar
manusia yaitu kesihatan dan kelapangan waktu.” (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Lafaz Maghbuun dalam Hadis di atas itu, asalnya dari kata Zhaban, yaitu membeli
sesuatu dengan harga yang melebihi batas dari harga yang semestinya dan berlipat-lipat dari
yang seharusnya dibayarkan, jadi yang sepatutnya dibeli seratus rupiah, tiba-tiba dibeli
dengan harga seribu rupiah. Juga Ghaban itu dapat berarti menjual sesuatu dengan harga
yang terlampau sangat rendahnya, misalnya sesuatu itu dapat dijual dengan harga
limapuluh rupiah, tetapi hanya dijual dengan harga lima rupiah saja.
Orang mukallaf yakni manusia yang sudah baligh lagi berakal oleh Rasulullah s.a.w.
diumpamakan sebagai seorang pedagang. Kesihatan tubuh dan kelapangan waktu yakni
waktu tidak ada pekerjaan apa-apa yang diumpamakan sebagai pokok harta atau kapital untuk berdagang itu, sedang ketaatan kepada Allah Ta’ala sebagai benda-benda yang
diperdagangkan.
Namun demikian sebagian besar ummat manusia tidak mengerti betapa pentingnya
memiliki dua macam kapital dan bingung untuk memilih apa yang hendak diperdagangkan
itu, padahal sudah jelas pokok kapitalnya ialah kesihatan dan kelapangan waktu dan yang
semestinya dikejar untuk mendapatkan keuntungan ialah membeli dagangan yang akan
dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya. Bukankah ketaatan kepada Allah itu akan
menguntungkan sekali, baik di dunia atau di akhirat. Bukankah itu pula yang menyebabkan
akan dapat memperoleh laba yang besar sekali di sisi Allah dan yang menjurus ke arah
mendapat kebahagiaan. Tetapi semua itu disia-siakan oleh sebagian besar ummat manusia
sewaktu mereka hidup di dunia ini.
Baharu orang itu mengerti besarnya kenikmatan sihat dan lapang waktu itu,apabila
telah sakit dan banyak kesibukan, sehingga banyak kewajiban-kewajiban terhadap agama
menjadi kocar-kacir dan terbengkalai atau samasekali ditinggalkan. Semoga kita semua
dilindungi oleh Allah dari hal-hal yang sedemikian itu.
98. Keempat: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. berdiri
untuk beribadat dari sebagian waktu malam sehingga pecah-pecahlah kedua tapak kakinya.
Saya (Aisyah) lalu berkata padanya: “Mengapa Tuan berbuat demikian, ya Rasulullah,
sedangkan Allah telah mengampuni untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang
kemudian?”
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?”
(Muttafaq ‘alaih)
Ini adalah menurut lafaz Bukhari dan yang seperti itu terdapat pula dalam kedua kitab
shahih – Bukhari dan Muslim – dari riwayat Mughirah bin Syu’bah.
Keterangan:
Dalam mengulas apa yang dikatakan oleh Sayidah Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa
Rasuiullah s.a.w. itu sudah diampuni semua dosanya oleh Allah, baik yang dilakukan dahulu
atau belakangan, maka al-lmam Ibnu Abi Jamrah r.a. memberikan uraiannya sebagai berikut:
“Sebenarnya tiada seorangpun yang dalam hatinya terlintas suatu persangkaan bahwa
dosa-dosa yang diberitahukan oleh Allah Ta’ala yang telah diampuni yakni mengenai diri
Nabi s.a.w. itu adalah dosa yang kita maklumi dan yang biasa kita jalankan ini, baik yang
dengan sengaja atau cara apapun. Itu sama sekali tidak, sebab Rasulullah s.a.w., juga semua
nabiullah ‘alaihimus shalatu wassalam itu adalah terpelihara dan terjaga dari semua
kemaksiatan dan dengan sendirinya tidak ada dosanya samasekali (ma’shum minadzdzunub).
Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari memiliki persangkaan yang jelas
salahnya sebagaimana di atas.
Jadi tujuannya hanyalah sebagai mempertunjukkan kepada seluruh ummat, betapa
besarnya kewajiban setiap manusia, yang di dalamnya termasuk pula Nabi Muhammad s.a.w.
untuk memaha agungkan, memaha besarkan kepadaNya serta senantiasa mensyukuri
kenikmatan-kenikmatanNya. Oleh sebab apa yang dilakukan oleh manusia, bagaimanapun
juga besar dan tingginya nilai apa yang diamalkannya itu, masih belum memadai sekiranya
dibandingkan dengan kenikmatan yang dilimpahkan oleh Nya kepada manusia tersebut.
Maka dari itu hak-hak Allah yang wajib kita penuhi sebagai imbalan karuniaNya itu, masih
belum sesuai dengan amalan baik yang kita lakukan, sekalipun dalam anggapan kita sudah amat banyak sekali. Jadi lemahlah kita untuk mengimbanginya dan itulah sebabnya, maka
memerlukan adanya pengampunan sekalipun tiada dosa yang dilakukan sebagaimana
halnya Rasulullah Muhammad serta sekalian para nabiNya ‘alaihimus shalatu wassalam itu.”
99. Kelima: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha juga bahwasanya ia berkata: “Rasulullah
itu apabila masuk hari sepuluh, maka ia menghidup-hidupkan malamnya dan
membangunkan isterinya dan bersungguh-sungguh serta mengeraskan ikat pinggangnya.”
Yang dimaksudkan ialah:
Hari sepuluh artinya sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan – jadi antara
tanggal 21 Ramadhan sampai habisnya bulan itu. Mi’zar atau izar dikeraskan ikatannya
maksudnya sebagai sindiran menyendiri dari kaum wanita – yakni tidak berkumpul dengan
isteri-isterinya, ada pula yang memberi pengertian bahwa maksudnya itu ialah amat giat
untuk beribadat. Dikatakan: Saya rnengeraskan ikat pinggangku untuk perkara ini, artinya:
Saya bersungguh-sungguh melakukannya dan menghabiskan segala Waktu untuk
merampungkannya.
100. Keenam: Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Orang mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada
orang mu’min yang lemah. Namun keduanya itupun sama memperoleh kebaikan.
Berlombalah untuk memperoleh apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan
mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena
oleh sesuatu mushibah, maka janganlah engkau berkata: “Andaikata saya mengerjakan begini,
tentu akan menjadi begini dan begitu.” Tetapi berkatalah: “Ini adalah takdir Allah dan apa
saja yang dikehendaki olehNya tentu Dia melaksanakannya,” sebab sesungguhnya ucapan
“andaikata” itu membuka pintu godaan syaitan.” (Riwayat Muslim)
101. Ketujuh: Dan” Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya RasuluHah s.a.w. bersabda:
“Ditutupilah neraka dengan berbagai kesyahwatan – keinginan -dan ditutupilah
syurga itu dengan berbagai hal yang tidak disenangi.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam sebuah riwayat, dari Muslim disebutkan dengan mengjunakan kata huffat
sebagai ganti kata hujibat, sedang artinya adalah sama, yaitu bahwa antara seseorang dengan
neraka (atau syurga) itu ada tabirnya, maka jikalau tabir ini dilakukannya, tentulah ia masuk
ke dalamnya.
102. Kedelapan: Dari Abu Abdillah, yaitu Hudzaifah bin al-Yaman al-Anshari yang
terkenal sebagai penyimpan rahasia Rasullah s.a.w., radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya
bersembahyang beserta Nabi s.a.w. pada suatu malam maka beliau membuka – dalam rakaat
pertama – dengan surat al-Baqarah. Saya berkata: “Beliau ruku’ pada ayat keseratus,
kemudian berlalulah.” Saya berkata: “Beliau bersembahyang dengan bacaan tadi itu dalam
satu rakaat, kemudian berlalu.”
Selanjutnya saya berkata: “Beliau ruku’ dengan bacaan di atas itu, kemudian membuka
– dalam rakaat kedua – dengan surat an-Nisa’lalu membacanya,kemudian membuka lagi –
sebagai lanjutan-nya – surat ali Imran, kemudian membacanya.
Beliau s.a.w. membacanya itu dengan rapi sekali -tidak tergesa-gesa – jikalau melalui
ayat yang di dalamnya mengandung pentasbihan – memahasucikan -beliaupun mengucapkan tasbih,jikalau melalui ayat yang mengandung suatu permohonan, beliaupun
memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan berta’awwudz -mohon perlindungan
kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik, beliaupun berta’awwudz – mohon perlindungan.
Kemudian beliau s.a.w. ruku’ dan di situ beliau mengucapkan: Subhana rabbtal ‘azhim.
Ruku’nya adalah seumpama saja dengan berdirinya – yakni perihal lamanya hampir
persamaan belaka -selanjutnya beliau mengucapkan: Sami’allahu iiman hamidah. Rabbana lakal
hamd,” lalu berdiri dengan berdiri yang lama mendekati ruku’nya tadi. Seterusnya beliau
bersujud lalu mengucapkan: Subhana rabbial a’la, maka sujudnya itu mendekati pula akan
berdirinya – tentang lama waktunya.” (Riwayat Muslim)
103. Kesembilan: Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya bersembahyang beserta
Rasulullah s.a.w. pada suatu malam, maka beliau memperpanjangkan berdirinya, sehingga
saya bersengaja untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.”
Ia ditanya: “Dan apakah hal yang tidak baik yang engkau sengajakan itu?”
Ibnu Mas’ud r.a. menjawab: “Saya bersengaja hendak duduk saja dan meninggalkan
beliau – tidak terus berma’mum padanya.” (Muttafaq ‘alaih)
104. Kesepuluh: Dari Anas r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
“Mengikuti kepada seseorang mayit itu tiga hal, yaitu keluarganya, hartanya serta
amalnya. Kemudian kembalilah yang dua macam dan tertinggallah yang satu. Kembalilah
keluarga serta hartanya dan tertinggallah amalnya.” (Muttafaq ‘alaih)
105. Kesebelas: Dari Ibnu Mas’ud r.a. katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Syurga itu
lebih dekat pada seseorang di antara engkau sekalian daripada ikat terumpahnya,
nerakapun demikian pula.” (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Maksud Hadis di atas itu ialah bahwa untuk mencapai syurga atau neraka itu mudah
sekali. Jika seseorang ingin mendapatkan syurga tentulah wajib mempunyai kesengajaan
yang benar, melakukan ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan, melaksanakan semua
perintah dan menjauht semua laranganNya, tetapi jika ingin memasuki neraka – semoga kita
dilindungi Allah dari siksa neraka itu, tentulah dengan jalan mengikuti apa saja yang
menjadi kehendak hawanafsu, menuruti kemauan syaitan dan melakukan apa saja yang
berupa kemaksiatan dan kemungkaran.
106. Keduabelas: Dari Abu Firas yaitu Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami, pelayan
Rasulullah s.a.w. dan ia termasuk pula dalam golongan ahlussuffah – yakni kaum fakir
miskin – r.a. katanya: “Saya bermalam beserta Rasulullah s.a.w., kemudian saya
mendatangkan untuknya dengan air wudhu’nya serta hajatnya – maksudnya pakaian dan
lain-lain. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Memintalah padaku!” Saya berkata: “Saya
meminta kepada Tuan untuk menjadi kawan Tuan di dalam syurga.” Beliau s.a.w. bersabda
lagi: “Apakah tidak ada yang selain itu?” Saya menjawab: “Sudah, itu sajalah.” Beliau lalu
bersabda: “Kalau begitu tolonglah aku – untuk melaksanakan permintaanmu itu – dengan
memaksa dirimu sendiri untuk memperbanyak bersujud – maksudnya engkaupun harus pula
berusaha untuk terlaksananya permtntaan tersebut dengan jalan memperbanyak menyembah
Allah.” (Riwayat Muslim)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 September, 2011 in Hikmah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: